Sabtu, 17 Juli 2010

Sebuah Pengakuan

Hoo. Tuhan, aku bukanlah ahli syurga
Juga tak mampu menahan siksa neraka
Kabulkan tobat ampuni dosa - dosaku
Hanyalah engkau pengampunan dosa hamba-Mu

Dosa - dosaku tak terhitung bagai debu
Ya.. Illahi, terimalah amal tobatku

Sisa umurku berkurang setiap hari
Dosa - dosaku makin bertambah Ya.. Illahi

Hamba yang berdosa datang bersimpuh menyembah-Mu
Mengaku menyeru memohon ampunan-Mu
Mengaku menyeru memohon ampunan-Mu



Ya Tuhan... terlalu jauh aku meninggalkan-Mu, Terlalu lama aku telah melupakan-Mu dan terlalu berani aku menghianati-Mu. Aku sadar, usia kini semakin berkurang dan berkurang.. tapi Dosa yang kubuat semakin bertambah tanpa ada sedikit tobat yang aku lakukan....

Ya Tuhan.... Biarkanlah aku bersujud memohon ampunan-Mu.. Berikanlah aku sebuah ketenangan saat aku meninggalkan dunia ciptaan-Mu ini dan kembali disisi Mu.....

Senin, 14 Juni 2010

Hitam

Hitam hanya hitam
Kelam
Gelap
Tak Bercahaya
Noda
Sihir
Pekat

Hitam akan membuat semuanya menjadi gelap
Hitam akan memberikan kegelapan
Hitam adalah dingin
Hitam adalah tak nampak
Hitam akan membuat semuanya terdiam

Aku Bukan Siapa-Siapa

Aku bukan Presiden
Aku bukan Mentri
Aku bukan Gubernur
Aku bukan Bupati
dan Aku bukan Seorang Camat

Aku bukan artis
Aku bukan Atlet
Aku bukan Bangsawan
Aku bukan Sastrawan
Aku bukan Pengusaha
Aku juga bukan wirausahawan

Aku hanya aku
Hanya manusia biasa yang mencoba untuk membahagiakan hatimu

Ijinkan aku untuk menjadi Aku
Agar Aku bisa membahagiakanmu dengan usahaku

Sabtu, 12 Juni 2010

Sahabat, Aku Rindu...

sahabat.....



kata yang sangat indah...
menyentuh dan penuh makna...

aku rindu akan kehadiran kalian yang seperti dulu...

aku hanya bisa berharap, kita bisa bersama lagi....


saling bercanda dan tertawa, mengejek dan menceritakan semua apa yang telah kita jalani sampai bercucuran air mata....


setiap detik bagi kita adalah sebuah waktu yang sangat berharga...

setiap hembusan nafas kita adalah sesuatu yang sangat bermakna dan terlalu indah bagi kita....


saat aku sedih, kau mencoba menghibur, tetapi apa balasaku... kau aku hina...

saat aku senang, kadang aku tak memikirkanmu, tetapi setiap saat kau memikirkanku...


sampai suatu saat tiba, kita dipisahkan oleh keadaan...


kau jauh disana dengan apa yang sedang kau impikan...

aku diini hanya untuk mencari masa depan...

perpisahan sementara ini sungguh menyedihkan...

setiap hari harus aku lewati hari-hari tanpamu,
tanpa candamu, tanpa tangismu dan tanpa senyummu....


hari-hari ini hampa... semua sudah berubah...


sepi.... sunyi.....


sahabat, maafkan semua kesalahan yang telah aku perbuat.....

jika suatu saat ini tubuhku terbaring kaku, aku hanya ingin melihat satu senyum diwajahmu...

aku tak ingin melihat tetesan mutiara air mata mengalir...

dan satu hal yang ingin aku dengar...


" kaulah sahabat terbaikku....."

sambil kau menutup mukaku dengan selembar kain putih....


sahabat... aku rindu saat-saat kebersamaan kita sebelum malaikat maut menjemputku....


sahabat, ijinkanlah aku mengulangi sekali lagi saat-saat indah seperti dulu denganmu .....



sahabat, aku rindu kalian..... dengarkan jeritan hati ini sahabat.....

Hanya bercerita...

" ingatkah engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu
sebelum cahaya "

Seperti lirik lagu itulah kenangan semasa SMA bersama-sama teman-teman dari Dewan Ambalan Soesilo Soedarman-Dewi Sartika saat saat perKemahan.

4 tahun yang lalu, aku memutuskan untuk menempuh study di sebuah sekolah menengah atas yang baru berdiri di daerahku, ya SMA N 2 Kroya tercinta.... Disekolah ini aku curahkan segenap perhatian dan tenaga untuk menuntut ilmu. Setiap pagi jam 6, aku selalu melangkahkan kakiku untuk menyusuri jalan di pinggiran pemantang sawah menuju kawah candradimuka ini. dengan berbekal sebuah tas "cangklek" beberapa buku di dalam tas, serta buku-buku super tebal yang harus di jinjing, aku mulai menyusur setiap jalan dengan keteguhan hati mencari jejak-jejak ilmu yang tersebar.

Langkah dan ayunan kaki ini setiap paginya selalu ditemani oleh suara-suara alam yang begitu nyaman, sangat indah dan enak didengar serta dengan dorongan semangat dari sang mentari yang membuat gairahku akan ilmu pengetahuan bergejolak. Dari sisi kanan dan kiri aku lihat hamparan sawah yang menghijau dengan beberapa petani yang sedang menggauli sawah mereka seolah mereka semua berkata " anak muda, kami membutuhkan otakmu ". tapi tunggu, bukankah aku masih terlalu kecil untuk bisa berguna bagi kalian? namun aku akan mencoba cewpat besar dengan membuat perubahan yang besar, agar kalian semua bisa mendapatkan pupuk dengan harga murah dan cepat. Agara nantinya bulir-bulir padi yang kalian hasilkan bisa lebih berharga... tapi aku yakin, walau mungkin bulir-bulir padi yang kalian hasilkan harganya jauh dan jauh rendah, tetapi harga diri kalian tinggi... kalian mau bekerja di sawah demi menghasilkan sebulir padi, bergelut dengan panas dan kotor. namun jiwa kalian tetap bersih ketimbang mereka para politisi yang mengaku bersih dan suci tetapi kotor dan busuk dalamnya.

Sampai pada suatu pasar yang ramai akan hiruk pikuk dengan obrolan para pedagang dan pembeli yang saling tawar menawar. Mereka sibuk menawar barang dengan harga yang murah... pedagang pun sibuk menawarkan dagangannya agar laku terjual. Beberapa dari ibu-ibu pembeli mengeluh, harga semakin mahal dan sulit dijangkau. Padahal mereka sebenarnya tidak tahu, jika mereka sedang dipermainkan oleh para anjink-anjink berdasi yang bermain dibelakang semua ini. bosan dengan obrolan dan keluhan,akupun melangkahkan kembali kakiku dan tepat dihadapanku segerombolan bocah SD yang sedang melangkahkan kakinya untuk belajar menjadi manusia yang beradab. Namun aku sungguh tercengang, bukannya nyanyian Garuda Pancasila ataupun Rayuan Pulau Kelapa yang keluar dari bibir mungil mereka tetapi malah lagu-lagu pop beken yang sedang naik daun. Apakah guru-guru dan orang tua mereka tidak mengajari mereka? ataukah lagu-lagu perjuangan jaman dahulu yang menurut saya sangat indah itu sudah ketinggalan jaman dan tidak "gaul"?

belum genap 50 meter dari gerombolan anak-anak SD tadi, saya terkejut dengan hadirnya seorang nenek tua dengan anak kecil yang berpakaian kumuh dan sobek disana sini. Nenek itu menghampiriku dan memelas.. "nyuwun artone mas..." tanpa basa basi aku menjulurkan uang dari dalam saku depan baju OSIS ku. Sang anak terlihat sangat manis walaupun kotor sana sini, tetapi walau raga mereka kotor, aku sangat yakin batin dan jiwa mereka bersih, tidak seperti para manusia berdasi yang duduk memerintahkan sebuah wilayah, berpakaian serba bagus , bersih dan rapi tetapi dalamnya kotor dan busuk. hmm.. pemandangan yang sungguh sangat bertentangan dengan UUD 45 dimana fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Mungkin negara hanya memelihara mereka tanpa mau bertanggung jawab, sehingga jika mereka dipelihara maka jumlah mereka akan semakin banyak dan tumbuh pesat. Serta sangat kontras dengan salah satu pasal yakni bahwa setiap warga negara berhak atas penghidupan yang layak dan berhak untuk mendapatkan pengajaran? tetapi apakah yang terjadi.... pasal itu hanya milik mereka para penguasa uang, para penggila uang dan kedudukan.bukan bagi para manusia dengan raga kotor tetapi hati yang bersih seperti nenek-nenek dan anak kecil tadi.

Sampai didepan sekolah, aku menyadari bahwa sekolahku jauh dari layak untuk sebuah sekolah. tak ada pintu gerbang, tak ada laborat yang memadai, bila hujan selalu banjir, dan bila panas selalu banyak debu yang berterbangan.buku-buku tak lengkap dan sering kali kami harus mencari bahan materi pelajaran sendiri. Seharusnya sekolahku bisa lebih baik dan bagus daripada sekarang, namun sayang.. uang dan biaya yang seharusnya digunakan untuk membangun fasilitas sekolah bagi calon pemimpin bangsa ini telah disulap menjadi mobil, tanah dan perhiasan oleh oknum-oknum yang tidak mempunyai hati nurani.

Sampai dalam kelas, tak lama setelah istirahat, aku mendapatkan tambahan bekal hidup dari para pahlawanku. tambahan yang sanngat berarti untuk mengarungi kejamnya laut dunia ini. dari balik sosok mereka yang seakan begitu luas pengetahuannya, tersibak sebuah keadaan yang tidak lebih beruntung daripada orang-orang yang telah aku temui tadi. setiap bulan mereka gajian, tetapi setiap bulan pula selalu ada monster mengancam... potongan ini, itu belum lagi ditambah dengan cicilan sepeda motor yang selalu menjangkiti mereka... serta biaya pendidikan bagi anak-anak mereka yang sedang mencoba menjadi manusia.sungguh tragis nasib setiap manusia di negeri ini.

itulah sebagian kecil gambaran carut marutnya sebuah sistem di negeri yang kaya akan sumber daya baik manusia maupun alam.

semoga kelak sang Presiden yang akan datang mampu mengubah semua itu, UUD 45 tidak hanya sejedar buku yang tertulisi aturan-aturan tanpa kepastian, hukum bukan hanya sekedar singa si manusia kotor tapi bersih jiwanya dan kucing bagi manusia bersih tapi kotor dan busuk. semoga kelak anak-anak negeri bisa mengenyam pendidikan sampa mereka benar-benar menjadi manusia dan bisa melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini. itu semua harus tercapai dan dicapai agar budaya kekaisaran dan kerajaan yang mewarisi tahta secara turun temurun terus terulang dan terulang, beda orang, beda wajah tapi satu perguruan, sama saja bohong.!!!!!

Hanya sebuah Harapan

"Aduh..... sakit...." Gerutuku sambil menangis.
" Sudah, jangan nangis lagi... sini ibu obatin..." sahut ibuku sambil berlari kerahku yang kesakitan karena jatuh.

Saat aku jatuh dulu, hanya ibu yang bisa menolongku. Saat aku di jahili teman-teman, tak ada tempat aku mengadu selain ibu. Saat aku bahagia, hanya dengan ibu aku membaginya. Tanpa seorang kakak.

Ya, Keinginan terbesarku saat itu dan sampai sekarang adalah memiliki seorang kakak dan bukan menjadi kakak. Bagiku menjadi seorang kakak berarti kharus menjadi sebuah tembok batu karang yang harus sedia melindungi adiknya. Menjadi sebuah contoh yang "harus" melakonkan karakter terbaik sebagai contoh adiknya. Harus bisa menjadi tauladan yang baik dan harus bisa menjadi ksatria di mata sang adik.

Sebagai seorang kaka aku tak boleh menangsi, tak boleh mengeluh dan harus selalu menjadi karang dimata adikku.

Aku bosan menjadi semua itu...

Aku menginginkan menjadi seorang adik yang bisa disayangi dan dilindungi. Yang bisa dijadikan seorang lawan bermain dan dijadikan seperti boneka. Bertahun-tahun aku menginginkan kehadirannya, namun sampai detik ini, sampai detik air mata ini, aku belum bisa mendapatkan itu. Adikku bisa melihaku sekeras dan setegar batu karang, tetapi jiwa ku menangis. Aku mengiunginkan seorang kakak yang bisa mengerti aku.

Tuhan, adakah kau bisa mengirimku seseorang yang bisa menjadikan aku adiknya? Bisa memberikan kasih sayang sebagai seorang kaka, dan bisa melindungiku serta memberikanku sebuah contoh yang bisa aku tiru.???

Tuhan, sebagi seorang kakak, akupun menginginkan akan hadirnya seorang kakak. Akupun ingin ada seseorang yang bisa aku ajak main bersama dan membelaku saat teman-temanku mengejekku, membangkitkanku saat datang keputus asaanku, menolongku saat aku jatuh dan mengusap air mataku saat aku menangis.

Tapi Tuhan, mengapa smapi saat ini Engkau belum menurunkan seorang kakak kepadaku?

Tuhan, dengar jeritan dari hati kecilku ... Tuhan, engkau Maha Pemberi segalanya, Berikan aku satu saja sosok seorang kakak yang bisa benar-benar memahamiku...!

Kakak, dimanapun sekarang engkau berada, aku merindukan kehadiranmu...

God, give me Brother please...!

Apa ini C.I.N.T.A

Susah...
Senang...
Bahagia...
Kecewa....
Mengasihi...
Dikasihi...
memberi...
Diberi...
Dikecewkan..
Dihianati...
Disakiti....
Dibohongi...

Semua itu ada dalm satu kata...
yakni CINTA ...


Cinta bisa membuatmu lebih tegar daripada batu karang
Bisa membuatmu lebih kuat daripada matahari
Bisa membuatmu lebih indah daripada rembulan

Tapi Cinta juga Bisa membuatmu lemah
Selemah arang ...

Cinta itu membutuhkan pengorbanan
Kesetiaan dan Kejujuran diuji

Cinta itu cinta
dan tak akan pernah berubah menjadi apapun..